Seberapa dalam kamu mengenal Islam ???

blog informasi tentang hal-hal yang unik sekitar Islam

Blogger Templates by Blogcrowds

Meskipun kekurangan tetap harus semangat

Kamis, 11 Februari 2010

Kejadian ini terjadi pada saat saya masih duduk di bangku SMA. Waktu itu saya kelas 2 SMA,setiap muslimin wajib melaksanakan yang namanya shalat jum’at. Saya biasa melaksanakan shalat jum’at diluar mesjid sekolah tepatnya di mesjid pesantren modern Al-Ihsan nama mesjidnya Al-Muhajirin yang jaraknya tidak begitu jauh dengan sekolah.

Disuatu hari jum’at saya pergi ke mesjid Al-Muhajirin seperti biasa. Dan seperti biasa pula saya makan mie ayam sebelum shalat jum’at di sekitar halaman mesjid. Ketika sedang makan mie saya melihat seorang orang tua tidak bisa melihat (tuna netra) dituntun oleh seorang laki laki. Dalam hati saya berbisik “ hebat sekali orang tua itu meskipun tidak bisa melihat tapi dia tetap semangat untuk melaksanakan kewajibannya, untung ada anaknya yang mau menuntunnya bagaimana kalau tidak”

Setelah kenyang menyantap mie ayam saya langsung pergi untuk berwudhu. Sampai di tempat wudhu saya melihat lagi orang tuna netra yang tadi sedang berwudhu juga. Tidak lama setelah saya berwudhu saya melihat orang tua itu sedang mengulur-ngukurkan tangannya ke dinding. Semua orang di sekitarnya saling menatap satu sama lain berharap ada yang membantu orang tua tersebut. Karena yang telah berwudhu hanya saya pada saat itu, saya langsung menuntun orang tua itu menuju dalam mesjid. Saya menuntunnya dengan hati hati dan menuju tengah-tengah mesjid.

“nah, pak disini saja ya shalatnya !”

“dek, ini sudah yang paling depan ?”

“bukan pak ini di tengah-tengah”

“ada tempat kosong di depan ?”

“ada pak, tapi sedikit susah”

“de, bapak ingin di depan karena kalau kita paling depan kita bisa dapet kerbau sedangkan di belakang kita hanya dapet ayam !”

Ketika si orang tua tadi berkata seperti itu saya tersentak dan merenung. Si bapak ini meskipun beliau seseorang yang memiliki kekurangan, beliau tetap semangat dalam ibadah dan tidak menjadikan kekurangannya itu sebagai alasan untuk tidak beribadah atau bermales-malesan.

Setelah itu saya langsung mengantarkan ke shap yang lebih depan yang saya lihat ada satu tempat lagi meskipun sedikit sulit dan mengganggu jama’ah lain saya mengantarkannya.

“Pak, ini tempat yang lebih depan yang masih kosong”

“O… iya, terima kasih ya de..”

“ saya ke shap belakang ya pak”

Setelah melakukan shalat jum’at kita tidak berjumpa lagi. Waktu itu saya harus ke sekolah lagi karena ada kegiatan lain.

Setelah kejadian itu saya berpikir kenapa kalau yang buta bisa begitu semangat untuk beribadah kenapa kita yang sempurna tidak seperti itu. Pelajaran yang dapat saya ambil dari kejadian itu adalah kita harus semangat dalam keadaan apapun sekalipun kita dalam keadaan kekurangan dan jangan jadikan kekurangan itu sebagai alasan untuk menyerah.

Saya berdo’a untuk bapak tua itu semoga beliau kelak dapat melihat. Melihat keindahan syurga yang Alloh SWT ciptakan untuk orang –orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah kepadaNya.

Berjilbab dan Berkerudung

Selasa, 02 Februari 2010

Seperti yang kita tahu bahwa menutup aurat adalah suatu kewajiban bagi umat Islam. Aurat untuk laki-laki adalah dari pusar sampai lutut dan untuk perempuan adalah seluruh anggota badan kecuali telapak tangan dan wajah bahkan untuk sebagian madzhab aurat perempuan adalah seluruh anggota badan tanpa terkecuali ketika dalam keadaan biasa (sehari-hari ) oleh karena itu banyak yang mengunakan cadar.

Berbicara tentang Berjilbab dan berkerudung adalah sesuatu hal yang cukup menarik, saya jadi teringat beberapa kejadian yang saya pernah alami pada saat duduk di bangku SMA. Ada dua kejadian yang saya alami saat itu dan sebenarnya saya juga sudah sedikit lupa bagi mana kejadiannya mungkin seperti ini :

1. suatu ketika saya melihat seorang perempuan yang memakai kerudung dan memakai pakaian yang cukup ketat membentuk lekukan-lekukan tubuhnya dan saya pun bertanya kepada teman saya yang dia adalah anggota rohis pada saat itu

“menurut kamu apakah dia pantas memakai jilbab sepeti itu ?”

Sahabat saya pada saat itu hanya tersenyum dan berkata :

“dia itu masih memakai kerudung belum memakai jilbab”

Pada saat itu saya langsung mengerti apa yang dia katakan. Setelah menghela nafas sedikit dia melanjutkan berbicara :

“kamu lihat dia mengenakan apa ?, dia memang menutup kepalanya dengan kerudung tapi kamu lihat bagian bawahnya masih bisa dilihat lekukan-lekukan tubuhnya dimana itu akan tetap mengundang nafsu atau hasrat”

“kamu benar, tapi tetap saja kan lebih baik dari pada tidak ditutup ? “

“mungkin”

Dari kejadian itu kita tahu bahwa yang berjilbab adalah seorang perempuan yang benar benar menutup auratnya dengan memperhatikan penutupan hal-hal yang akan menimbulkan syahwat

2. suatu saat setelah kejadian yang pertama saya melihat seorang perempuan berjilbab sedang berdua-duaan dengan seorang pria. Saya pun bergumam

“sayang sekali sudah berjilbab tapi tetap berpacaran”

Tiba-tiba ada yang menjawab gumaman saya tadi

“bukan begitu, menurut saya dia belum berjilbab sesungguhya, dia masih tergoda dengan hal-hal yang seperti itu”

Ternyata yang menjawab gumaman tadi adalah seorang akhwat teman saya juga

“ apakah kamu sudah merasa berjilbab ?” saya bertanya balik

“saya pikir saya juga belum berjilbab”

Dari kejadian yang kedua ini saya berpikir bahwa yang berjilbab itu adalah seorang akhwat yang benar benar menutup auratnya dan menutup diri dari hal-hal yang dilarang oleh agama.

Dari kedua kejadian itu kita melihat suatu perbedaan pemikiran atau pendapat. teman saya yang pertama berpikir bahwa yang memakai jilbab adalah yang menutup auratnya dengan baik dan untuk teman saya yang akhwat dia berpendapat bahwa yang berjilbab itu adalah seorang akhwat yang menutup auratnya dan menutup dirinya dari perbuatan dan hal-halnya yang dilarang oleh agama.

Menurut saya sendiri adalah semuanya bertahap dari mulai berkerudung kemudian berjilbab dan yang terakhir adalah berjilbab dengan sungguh sungguh mengharapkan ridho Alloh SWT.

Terima kasih untuk sempatkan membaca.... jazakalloh

Pembacaan Al-Fatihah dan Tashahud harus sedikit di keraskan

Senin, 07 Desember 2009
Seperti yang kita ketahui bahwa dalam shalat ada yang namanya rukun shalat ada yang menyebutkan 13 dan ada yang menyebutkan 17 tapi pada konteksnya sama. jika kita perhatikan dari semua rukun yang ada hanya dua rukun yang yang merupakan rukun bacaan yaitu membaca Al-Fatihah dan membaca tashahud (tahiyat). yang namanya rukun shalat harus dilakukan seluruhnya secara lengkap dan benar. jika salah satu rukun tidak di jalankan dengan benar maka rukun tersebut tidak terhitung dan akibatnya dapat membatalkan membatalkan shalat itu sendiri.
yang sering saya lihat dan rasakan ketika shalat di beberapa mesjid, orang-orang hanya menggerakan mulut mereka ketika membaca Al-Fatihah dan tashahud. saya bertanya-tanya bagaimana mereka memeriksa apakah mereka telah melakukan rukun dengan baik atau tidak maksunya adalah apakah bacaannya sudah benar, makhorizul huruf dan tajwidnya sudah sesuai atau belum. jika ada satu saja tajwid yang di baca tidak sesuai dengan yang seharusnya maka itu akan menyebabkan batalnya membaca Al-Fatihah dan indikasinya adalah membatalkan shalat. dan jika kita hanya menggerakan mulut saja tidak bisa disebut sebagai membaca.
oleh karena itu dalam Kitab As-safinatunnaja rukun shalat untuk pembacaan surat Al fatihah dan tashahud harus sedikit di keraskan sampai terdengar oleh telinga si pembacanya sendiri untuk memeriksa apakah surat Al-Fatihah dan tashahud yang dia baca sudah sesuai dengan tajwid dan makhorizul hurufnya atau tidak.
hanya itu yang bisa saya sampaikan untuk postingan kali ini, syukron atas atensinya...